Orang yang gak pintar-pintar..

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Mei 2017

WARISAN

Ini adalah tulisan anak Siswi SMA Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur, itu menyoroti soal identitas, baik agama, suku, ras, maupun kebangsaan, adalah warisan dari orang tua. Dia mengajak seluruh warga negara Indonesia menghayati Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sehingga kehidupan toleransi hidup beragama tetap terjaga...
berikut tulisannya yang saya copas dari halaman facebook pribadinya..

WARISAN
 
Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh
dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali coba menjadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolak ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.
© Afi Nihaya Faradisa


Share:

Selasa, 28 Desember 2010

Timnas, Euforia Media, dan Nasionalisme Latah Kita

Baiklah Kita patut berbangga dengan prestasi Tim nasional sepak bola Kita yang secara luar biasa mampu lolos ke final piala AFF tahun ini, luar biasa karena memang sudah sejak lama sepak bola Kita terpuruk dan tiba-tiba Kita dapat hadiah akhir tahun dari Timnas yang berprestasi. Lalu mendadak kesadaran Kita tergugah dan timbul pula rasa nasionalisme dan cinta negeri di diri Kita. Namun yang perlu sedikit Kita kaji ialah: bagaimana kalau ternyata nasionalisme Kita latah Cuma karena dipicu oleh euforia produksi media massa? Tentu pertama perlu ditegaskan bahwa maksud Kita bukan mendiskreditkan tim nasional maupun pesimistik dan merendahkan Mereka, karena seyogyanya timnas memang perlu dipuji dan di support agar mampu maju lebih jauh lagi,

yang perlu Kita ketahui ialah pengaruh media massa yang sedemikian besar dalam membentuk opini publik dan secara alam bawah sadar menimbulkan kepercayaan pada diri Kita sehingga apapun yang dikatakan media langsung Kita percaya tanpa adanya bantahan. Itu yang coba Kita gali maknanya.

Ada sebuah teori yang dikembangkan oleh teoritikus Sandra Ball-Rokeach and Melvin DeFleur yang disebut “The Dependency Theory” alias “Teori Ketergantungan.” Dalam teori ini disebutkan bahwa “semakin seseorang tergantung pada media massa untuk memenuhi kebutuhannya, maka media akan menjadi semakin penting bagi seseorang itu. Kemudian media akan menjadi sangat berkuasa kepada seseorang tersebut, dan lama-kelamaan media akan berkuasa atas hidup seseorang itu.” Begitu tergantung Kita pada sebuah produk media sehingga tanpa sadar Kita memang sudah sampai pada proses dimana media menjadi sangat urgen dalam aspek kehidupan, Kita begitu percaya pada semua yang dikatakan media tanpa mau memilah mana yang benar dan mana yang blunder. Salah satu kasus yang cukup membuat Saya geli sendiri adalah di sebuah akun Twitter seorang bertanya dalam tweet nya “eh lagi dijalan nih menuju Benteng Vrederburg, ada yang tahu enggak jalannya kemana?” apa yang lucu hingga Saya geli sendiri? Sebenarnya pertanyaan itu tidak lucu dan biasa saja, bertanya jalan. Yang lucu dan perlu diperhatikan adalah mental pemilik akun tersebut yang sudah terlalu tergantung pada media (dalam hal ini Twitter) sehingga dia memutuskan bertanya arah jalan pada orang di Twitter.

Coba ditelaah secara logika, bukankah akan lebih efektif bila orang tersebut turun dari motornya sejenak lalu bertanya langsung pada orang di pinggir jalan ketimbang harus bertanya di Twitter dan harus menunggu sekian lama ada orang yang menjawab pertanyaannya tersebut? Namun secara alam bawah sadar memang pola pikir dependensia media itu sudah tertanam jadi pemilik akun itu lebih percaya pada Twitter daripada bertanya orang di jalan, walau tentu itu lebih nonefisien. Contoh lain adalah sebut saja si A yang berasal dari Jakarta yang panas tiba-tiba pindah ke Bogor yang sering turun hujan, karena pindah Kota maka Si A merasa membutuhkan membaca koran, atau melihat TV, maupun di internet tentang ramalan cuaca hari ini agar tahu apa akan hujan. Satu hari tiba-tiba Dia terputus dari media yang dikonsumsi nya tiap hari, internet putus, TV mati, koran tak dikirim. Alih-alih melihat keluar apa hari ini akan hujan atau percaya pada intuisi bahwa mungkin hari ini tak akan hujan, si A memilih tak keluar rumah sebab Dia tak mendapat ramalan cuaca hari ini dari media, sebuah sumber yang paling dipercayanya dalam hidup.

Maka dengan mengacu pada teori ketergantungan media tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: “bagaimana kalau ternyata rasa cinta negeri, nasionalisme, serta dukungan Kita pada timnas sekarang ini hanya karena Media memaksa alam bawah sadar Kita agar percaya hal itu, dan bukan berasal dari lubuk hati Kita yang paling dalam?” karena porsi pemberitaan media massa yang Kita konsumsi tiap hari sangat berlebih dan cenderung bias pula, dan semua Kita telan mentah-mentah. Padahal media tentu membuat berita itu bertendensi pada penaikkan oplah dan rating maka sebuah isu yang sepertinya berpotensi meningkatkan kredibilitas media itu harus di blow up sebanyak mungkin bahkan kalau perlu didramatisir agar lebih menarik minat. Dalam makalahnya “pengantar Komunikasi Massa” Nurudin menyebutkan “Media massa dan budaya massa telah mempromosikan banyak hal yang ikut menjadi sasaran teori kritis. Bahkan ketika media massa tidak melihat sebagai sumber masalah khusus, mereka dikritik untuk memperburuk atau melindungi masalah dari yang diidentifikasi atau disebut dan dipecahkan. Contohnya, seorang teoritikus berpendapat bahwa isi praktik produksi para praktisi media tidak hanya menyebabkan tetapi juga mengabadikan masalah.” Maksudnya ialah media massa seringkali harus menambahkan bumbu-bumbu penyedap dalam sebuah informasi agar para audience berminat mengkonsumsi informasi itu, dan sialnya Kita ini lagi-lagi tanpa sadar ikut termakan propaganda budaya massa itu.

Kita lebih butuh sebuah hiburan ketimbang isi informasi itu, Kita lebih suka kemasannya yang wah daripada esensi informasi yang dikandungnya. Maka porsi pemberitaan luar biasa media lokal akan Timnas Indonesia mau tak mau tak mau memunculkan euforia massal yang melahirkan nasionalisme latah yang muncul tiba-tiba selama Piala AFF terselenggara. Sebuah pertanyaan lantas timbul: seandainya media tidak mengatakan “kemenangan timnas sepakbola Indonesia menimbulkan nasionalisme pada penduduk Indonesia” apakah Kita tetap memiliki rasa nasionalisme itu? Kalo iya kenapa sebelumnya euforia nasionalisme ini tak muncul ke permukaan? Kasus yang sama persis terjadi dimana Kita tahu kalau Kita butuh dan harus makan Burger setelah Kita melihat iklannya di TV, padahal sebelum melihat iklan itu Kita tak butuh makan burger dan hidup Kita baik-baik saja tanpanya.

Sebagai penutup, lagi-lagi ini bukan bentuk pesimis akan timnas, justru harusnya ini jadi perenungan Kita. Apakah dukungan Kita pada timnas sepakbola Indonesia benar-benar dari lubuk hati yang terdalam atau kesadaran ini adalah kesadaran (palsu) yang timbul karena digugah media massa yang orientasi utamanya adalah atas nama rating dan oplah? Agaknya niat baik Kita memberi support dan tekad nasionalisme pada timnas perlu didekonstruksi dan dievaluasi. Agar timnas sepakbola negeri yang memang bermain bagus dan patut berprestasi itu benar-benar dapat membuat prestasi luar biasa di kancah internasional karena mendapat dukungan yang sesungguhnya dari lubuk hati terdalam warga Indonesia.
Share:

Senin, 20 Desember 2010

Fantastis! Garuda Menang Lagi

Garuda Didadaku
Garuda Kebangggaanku
Ku yakin hari ini
Pasti Menang !


Sebait lagu yang di populerkan oleh Group Netral, akhir-akhir ini sering kita dengar dinyanyikan banyak orang
mulai adik-adik kecil hingga suporter sepak bola, ini seiring keikut sertaan Timnas Merah Putih Di Ajang Piala AFF!

Squat Timnas Merah Putih kembali memperoleh kemenangan setelah tadi malam menundukkan Timnas Filipina 1-0, gol semata wayang Indonesia Di ciptakan Oleh Striker anyar hasil naturalisasi "Cristian Gonzales" pada menit ke-43.


Keberhasilan Timnas dari penyisihan group hingga masuk Final, memberi secercah harapan bagi kebangkitan Sepak bola Tanah air khususnya, dan menjadi penghibur derita negeri ini, setelah bertubi-tubi bencana melanda negeri ini mulai banjir bandang di wasior - papua, gempa dan sunami di mentawai, meletusnya gunung merapi dan banjir yang melanda berbagai wilayah di negeri ini. Serta menjadi penyejuk atas keruwetan para elite pemerintahan, belum tuntasnya kasus century, gayus dan mafia peradilan hingga detik ini.

Hari ini kemenangan Timnas atas Filipina menjadi topik perbincangan yang menarik mulai ibu rumah tangga hingga pejabat negara.

Ayo Garuda tingkatkan terus prestasimu dan kobarkan semangat juangmu raihlah impian Negeri ini jangan pernah turun semagatmu! Biar Ketua PSSI aja yang turun.

Selamat Berjuang Garuda!
Doaq Selalu menyertaimu!

Share:

Rabu, 17 November 2010

Perubahan atau Frustasi Politik?

Tumbangnya Orde Baru membawa angin segar demokrasi bagi rakyat Indonesia. Pemilu pertama dengan suara rakyat selepas masa Soeharto langsung diikuti oleh 48 partai politik (parpol). Keadaan tidak jauh berbeda dengan pemilu-pemilu sesudahnya; tahun 2004 diikuti oleh 24 parpol, dan tahun 2009 bertambah lagi menjadi 34 parpol.

Bagi sejumlah pihak, perjalanan demokrasi Indonesia, bagaimanapun, sudah merupakan sebuah perkembangan cukup baik; memang, benturan-benturan politik negara kita tidak sepanas negara yang sedang belajar demokrasi lainnya. Namun, bagi yang kontra, hal ini masih merupakan kelemahan, dalam hubungannya dengan etika politik para elit yang masih rendah.


Bersatu Melawan

Isu konfederasi untuk Pemilu 2014 telah terwacana dan sedang mengalami proses politiknya. Hal itu menjadi salah satu alternatif mengenai akan dibawa ke mana sistem demokrasi, mekanisme, dan tradisi berpolitik di Indonesia. Walaupun bukan ide baru, namun kemunculannya sekarang agaknya diuntungkan dengan adanya kejenuhan masyarakat akan sistem kepartaian.

Yang jadi persoalan adalah, jika kelak terbentuk, apa yang akan dilakukan oleh 'Konfederasi' selanjutnya? Apakah memang dimaksudkan untuk membentuk satu polar kekuatan politik demi rakyat banyak, atau tujuan lain? Isu ini mengingatkan pada kasus di Amerika Serikat tahun 1840-an: 'gerakan Know Nothing'.

Gerakan politik tersebut dibentuk sebagai reaksi salah satu kaum radikal atas adanya dominasi imigran Irlandia dan Jerman. Know Nothing dibentuk dalam rangka membendung imigran yang telah banyak merebut lapangan kerja dan posisi strategis bagi native (penduduk lama). Imigran dituding sebagai golongan yang merusak tatanan demokrasi, terlebih dengan kecenderungannya mendekat pada Partai Demokrat (Amerika).

Dengan intensifnya gerakan kaum yang 'tidak mengetahui apa-apa' ('know nothing') ini, pada akhirnya membuahkan hasil, dengan dukungan massa ekonomi lemah. Berbagai isu yang dihembuskan (agama, etnis, kewarganegaraan, ekonomi, dan demokrasi) begitu efektif menarik perhatian konstituen. Pada perkembangannya, gerakan massa—dengan nama resmi Partai Republik AS—ini meraih kemenangannya pada sejumlah pemilihan umum tahun 1850-an.

Dalam beberapa hal, wacana konfederasi parpol di Indonesia sekarang agaknya mirip dengan yang terjadi pada kasus Amerika hampir 2 abad silam tersebut: kekuatan politik sporadik berhadapan dengan sumberdaya besar.

Hal yang terjadi kemudian adalah, elemen sporadik melebur dalam satu gerakan baru. Cepatnya proses konsolidasi, pada tingkat elit, disebabkan oleh adanya persamaan kepentingan melawan dominasi imigran; dan, pada level konstituen, yang berkembang adalah isu populis massa mengambang.

Wacana konfederasi di negara kita, walaupun jelas tidak sama, namun serupa dengan kasus 'Know Nothing' dengan adanya satu kondisi, kejenuhan masyarakat atas tatanan yang dirasa tidak membawa dampak positif apapun. Pada tingkat elit, menandingi 'dominasi' lawan politik yang telah mapan menjadi landasan bersama; pada masyarakat menengah, penyederhanaan kepartaian dan perkembangan demokrasi menjadi isu menarik untuk meraih justifikasi; dan, pada level konstituen, adanya tampilan politik yang segar menjadi harapan akan adanya perubahan positif.

Komitmen Malu-malu

Kita punya pengalaman kepartaian masa Orde Baru dengan kebijakan fusi parpolnya. Beberapa kekuatan politik dilebur (fusi) menjadi dua parpol berbasis kaum nasionalis (PDI) dan agama (PPP), dan Golongan Karya. Dalam hal ini, ada sedikit perbedaan antara konfederasi dengan sistem fusi, di mana fusi lebih pada peleburan beberapa parpol dalam satu bentuk baru. Namun, konfederasi lebih condong sebagai kesepakatan membentuk satu gerakan politik, tanpa melebur dalam bentuk baru.

Beberapa kerumitan menjadi persoalan kemudian. Bedanya Know Nothing, pada awal pembentukannya, memang sudah terwacanakan kecenderungannya sebagai satu bentuk parpol. Lalu, apa yang dilakukan 'Konfederasi' pada saat dan setelah Pemilu kelak; dan bagaimana kekuatan politiknya jika masing-masing tetap dalam eksistensi lamanya itu?
Pertama, yang menjadi soal adalah komitmen parpol terhadap kepentingan masyarakat. Bentuk konfederasi, tanpa lebur, lebih terlihat sebagai konsolidasi elit mengumpulkan suara demi kursi parlemen. Lalu, mengapa tidak dari awal saja berkomitmen untuk membentuk satu parpol baru? Dengan demikian, tentu akan lebih menampilkan komitmen dalam membentuk tatanan baru; dan, akan mudah dinilai konstituen dalam pertanggungjawabannya sebagai sebuah parpol.

Kedua, konfederasi, yang mungkin akan ternaungi atas nama satu parpol motor konfederasi, tidak cukup menjamin stabilnya kepercayaan konstituen. Perbedaan platform antarparpol dan basisnya, memunculkan kemungkinan bahwa konstituen justru tidak memilihnya. Mungkin saja Gerindra dengan sumberdayanya memang dapat menggaet 6 parpol, bahkan, dengan rencananya 9 parpol. Namun, belum tentu basis massa parpol anggota serta-merta dapat dimobilisasi dengan mudah.

Munculnya kemungkinan akan adanya konfederasi berbasiskan agama pun membuat adanya persoalan ketiga, yaitu politik berbasis agama (sektarianisme). PAN, yang menjadi salah satu parpol pengusung ide konfederasi, bisa memiliki kecenderungan paling besar dalam pembentukan kutub politik berbasis agama. Namun, sekarang tampaknya bukan saatnya lagi untuk mengulang sejarah 'Poros Tengah'.

Perkembangan etika dan pengetahuan politik masyarakat akan dipertaruhkan jika yang terjadi kemudian adalah pengumpulan suara dengan isu keagamaan. Hal itu akan membentuk sebuah kondisi politik tidak sehat dan irasional. Politik semacam itu terjadi sebelum era reformasi, tidak perlu ada lagi. Hal keempat adalah, apa kiranya manuver yang akan dilakukan oleh kekuatan politik lainnya?

Tidak menutup kemungkinan parpol besar lain juga saling merapat sebagai antisipasi. Hal ini membikin kondisi yang sama saja; lawan yang dilawan semakin kuat. Ide “asimilasi parpol” ala Partai Demokrat (Indonesia) menjadi gejala yang cukup mudah dilihat. Belum lagi persoalan administratif lain seputar mekanisme dan prosedur pemilu dan setelahnya, RUU Pemilu 2014 misalnya, dalam kaitannya dengan bentuk konfederasi ini.

Kalau begini, tanggapan klasik lagi-lagi muncul, 'Inilah proses berkembangnya demokrasi pada suatu negara'. Memang tidak ada salahnya mencoba bentuk baru dalam rangka perkembangan dan reformasi politik. Namun, kita seharusnya dapat membaca pengalaman kita dan kasus-kasus di negara lain untuk memahami dan mempelajarinya demi kebaikan kita di masa depan. Di masanya, Machiavelli dan Marx secara konsisten memang pernah bilang bahwa apapun dapat dilakukan untuk mereformasi tatanan; namun, Mahatma Gandhi dan Abdurrahman Wahid juga dhawuh, bahwa perubahan oleh elit harus dilakukan dengan pikiran jernih dan demi orang banyak! Perubahan bukan hanya demi perubahan itu sendiri sebab kejenuhan. Hal itu justru tampak seperti frustrasi para outsiders.

Lalu, bagaimana? Satu hal yang sepatutnya menjadi dasar aktivitas politik. Bukan efisiensi dan efektivitas, atau kepraktisan dan biaya; namun dampak positif yang jelas bagi pewujudan kebutuhan masyarakat banyak, itulah yang harusnya menjadi prioritas!

oleh :
(Sayfa Auliya Achidsti adalah staf LESBUMI Yogyakarta, peneliti.)
Share:

Selasa, 09 November 2010

Hari Pahlawan... "Berjuang tanpa Penjajahan?"

Tanggal 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hari di mana para pejuang Indonesia mempertahankan……….

kedaulatan negara yang dicoba dirampas kembali kemerdekaannya oleh Belanda yang membonceng sekutu di kota Surabaya. Dalam pertempuran yang menewaskan banyak pejuang itu, Bung Karno pernah menyebutnya sebagai sebuah peristiwa heroik dengan semangat macan.
Memang mempertahankan kemerdekaan amat berat. Kita tahu bahwa hal itu adalah sebuah perjuangan yang dihiasi oleh darah dan air mata. Amat terasalah perjuangan itu ketika pertama-tama berada dalam situasi kemerdekaan. Memang benar tidak semudah merebutnya.

Kini situasi sudah jauh berubah. Tak ada lagi penjajahan sebab seluruh bangsa-bangsa di dunia ini sudah menjadi negara berdaulat dan kemerdekaaan sudah menjadi sebuah hal universal bagi seluruh negara di manapun itu.
Masalah yang kita hadapi adalah bagaimana mengisi dan mempertahankan kemerdekaaan. Semangat 10 Nopember adalah kekuatan untuk hal itu. Kita tahu bahwa persoalan yang kita hadapi sekarang ini adalah persoalan yang berat. Penjajah memang tak lagi datang, tetapi bahwa model lain dari penjajahan itu sudah menjadi persoalan kita sejak lama.
Generasi muda kita tanpa terasa dijajah oleh industrialisasi Kapitalis, mereka mabuk dalam pencarian identitas tanpa sadar masuk dalam perangkap Kapitalis.
Dari dalam diri kita sendiri, penjajah datang dalam bentuk kebuntuan cara berpikir. Persoalan besar kita adalah persoalan kemiskinan, kebodohan, kemelaratan politik serta apatisme. Orientasi ke masa depan hampir tidak ada. Kalau kita berjalan sampai ke pelosok dan pedalaman negeri ini, yang ada hanyalah ketidakmampuan mengerti dan merancang mengenai masa depan.
Hal ini berkaitan dengan cara berpikir. Kita terbiasa tidak mau berjuang sebab kita mewarisi sebuah negeri yang sudah merdeka. Kita terbiasa hidup dalam kenyamanan kemapanan yang ada. Sebab kita adalah negeri yang amat terbiasa hidup dalam kenyamanan kehidupan yang semu. Sejak kita merdeka, memang negara ini tidak pernah membangkitkan semangat. Kita selalu dihantui oleh ketakutan jika berpartisipasi akan menghadapi masalah dari negeri ini.
Maka yang terjadi kini adalah sebuah negara tanpa arah dan tanpa semangat. Perhatikanlah setiap anak-anak yang bersekolah. Mereka memang pergi dan pulang, tetapi tidak tahu mengenai apa artinya masa depan. Perhatikan mereka yang bekerja, tanyakan apa yang sedang dikerjakan, pastilah akan menjawab untuk kepentingan dan investasi keluarganya sendiri. Tanyakan pada para birokrat, apa yang sedang mereka lakukan, mereka pasti menjawab bagaimana supaya mereka bisa tetap memperoleh gaji tanpa harus repot-repot.
Setiap orang di negeri ini memang amat sulit memperoleh napas baru bernama semangat tadi. Bandingkan dengan mereka yang tanpa tedeng aling-aling berjuang, angkat senjata dan menyerahkan nyawanya 10 Nopember 1948 silam. Mereka bersedia menyerahkan apa saja, demi satu tujuan yang membakar semangat mereka, yaitu mempertahankan kemerdekaan negerinya.
Sudah saatnyalah elit politik dan pemimpin negeri ini berhenti berbicara mengenai diri dan mereka saja. Sudah saatnya yang dibicarakan adalah bagaimana menyelamatkan negeri ini supaya bisa bertahan. Harus jujur kita akui bahwa fondasi semangat negeri ini sudah sangat rapuh. Yang ada adalah disharmoni, perebutan dan intrik politik serta korupsi. Bangsa ini harus dibangkitkan kembali semangatnya untuk bangkit dan mempertahankan ancaman yang datangnya dari dalam diri kita sendiri. (***)
Share:

Rabu, 02 Juni 2010

Happy Birthday Pancasilaku ...

Masih ingat kah kita sewaktu masih dibangku sekolah yang setiap hari Senin pagi ada upacara menaikkan bendera Merah Putih, terus dilanjutkan dengan pembacaan Pancasila ...


PANCASILA

Ketuhanan Yang Maha Esa
Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Persatuan Indonesia
Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Dalam rangka mengenang hari lahirnya Pancasila tgl 1 Juni 1945 , ada baiknya kita nyanyi bareng lagu Happy Birthday (to you ), seraya mengucapkan selamat panjang umurnya ...

Tahun 2010 ini adalah ultahnya menginjak usia yang ke 65... kalau diibaratkan manusia, maka usia tsb adalah usia yg sudah mature , menginjak usia senja yg menuju menjadi manula .
Walaupun sudah 65 tahun lamanya dipraktekkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia , tapi belum mencapai hasil yang maksimal. Bahkan mungkin malah lebih jauh dari yang diharapkan oleh founding fathers republik ini.


Pancasila adalah gagasan Pak Sukarno ( mantan presiden RI yang pertama ) yang dipidatokan pada 1 Juni 1945 untuk dijadikan Dasar Negara RI didepan BPUPKI , Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia .

Sudah beberapa kali pula negara kita ini mengalami guncangan pemberontakan maupun usaha2 penggulingan kekuasaan yang syah, ada usaha untuk menghapuskan Pancasila dari dasar negara kita. Namun Pancasila ini masih tegar .
Betulkah Dasar Negara R.I. itu memang Sakti adanya ? ( harap dibaca : tak mempan dibacok oleh senjata tajam atau ditembak dengan pelor )
Nyatanya setiap tanggal1 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila .

Ada hal yang betul2 dirasakan belum sejalan dengan Pancasila ... ini menurut pengamat penulis belaka ialah : Sila ke 5 ... Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia





Negara Republik Indonesia itu sebenarnya adalah negara yang kaya raya . Punya deposit yang berjuta juta ton dari berbagai aneka bahan tambang, seperti minyak mentah, emas, tembaga, nikel, timah, batu bara dsbnya . Belum lagi hasil perkebunan maupun hutannya, apalagi hasil perikanannya. Sudahlah pokoknya negeri kita itu gemah ripah. Kekayaan alam kita tak ada taranya .

Seandainya saja semuanya itu bisa dikelola dengan baik. Dan hasil pengelolaan tersebut bisa dimanfaatkan oleh semua lapisan rakyat.. tentunya dalam pengertian, bahwa uang hasil pembangunan tersebut diawasi penggunaannya dengan baik serta disalurkan kembali ke masyarakat .

Hmmm aduhai ... terasa seperti mimpi disiang bolong ya ...

Sekarang mari kita tengok berapa besar income per capita bangsa awak ini ( per 2008 ) :

Ranking USD
31 Singapore 34,760
72 Malaysia 7,250
104 Thailand 3,670
122 Timor Leste 2,460
129 Phillipine 1,890
130 Indonesia 1,880
156 Vietnam 890
162 Cambodia 640



Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan oleh bangsa kita ini, semoga saja pemerintah dan rakyat Indonesia bisa bangkit menjadi bangsa yang maju dan kuat ekonominya ...


Selamat Ulang Tahun Pancasilaku !

Sumber :
Wikipedia dan
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_GNI_(nominal,_Atlas_method)_per_capita

Share:

Minggu, 18 April 2010

Momentum Sensus Penduduk 2010

Kekisruhan daftar pemilih tetap Pemilu 2009 merupakan salah satu puncak gunung es masalah data kependudukan di Tanah Air.

Secara faktual, ketidaktersediaan data kependudukan yang lengkap dan mutakhir kerap menyulitkan perencanaan dan kegiatan di lapangan, baik pemilu maupun kegiatan pembangunan.

Data sensus dan survei

Selama ini, kegiatan untuk perencanaan pembangunan yang terkait data penduduk dilakukan dengan memanfaatkan data hasil sensus dan survei dari BPS dan lembaga penelitian. Namun, perencanaan pembangunan data itu memiliki kelemahan.

Pertama, terkait ketepatan waktu (timelines). Data untuk perencanaan kegiatan pada waktu tertentu tidak match dengan waktu ketika data itu dikumpulkan sehingga akurasi perencanaan berkurang. Semakin jauh perbedaan waktu antara data yang dikumpulkan dan digunakan, hal itu akan menyebabkan akurasi perencanaan berkurang. Ini disebabkan banyak perubahan terjadi antara waktu data dikumpulkan dan saat digunakan.

Menyadari potensi perubahan itu, untuk perencanaan digunakan penyesuaian (adjustment) berdasarkan asumsi, perkiraan, atau proyeksi. Hal ini umum dilakukan pada data hasil sensus penduduk, mengingat pelaksanaan sensus dilakukan setiap 10 tahun sekali. Maka, untuk memenuhi kebutuhan data penduduk di antara dua sensus penduduk, digunakan data hasil proyeksi penduduk.

Kedua, terkait data individual. Data hasil sensus dan survei tidak dilengkapi nama dan alamat individu sehingga menyulitkan untuk kegiatan teknis operasional di lapangan. Untuk menyiasati kelemahan itu, pemerintah melakukan pendaftaran, antara lain pelaksanaan program keperluan layanan sosial, pembagian BLT, serta bantuan pendidikan dan kesehatan.

Registrasi penduduk

Untuk masa datang, penyiapan data seperti itu harus dihindari sebab akan menyebabkan pemborosan biaya dan waktu. Bahkan, terkesan pemerintah kurang mengantisipasi aneka masalah yang dihadapi masyarakat. Maka, sudah saatnya memikirkan ketersediaan data yang didasarkan pada hasil registrasi penduduk.

Jika dilakukan dengan benar, data registrasi akan memenuhi standar ketepatan waktu. Sebab, data itu terus diperbarui sesuai dengan kejadian yang dialami penduduk, seperti lahir, mati, dan pindah. Data registrasi ini juga bisa memuat nama dan alamat yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

Hasil registrasi penduduk banyak digunakan negara maju sebagai data utama untuk perencanaan dan kegiatan program. Sementara hasil sensus dan survei digunakan sebagai data pendukung atau pembanding.

Untuk perencanaan program, misalnya, negara maju banyak menggunakan tabel kehidupan (life table). Tabel ini memuat data seperti penduduk menurut umur, angka umur harapan hidup, angka kematian, penduduk usia sekolah, dan pencari kerja baru. Adapun data pokok untuk mengonstruksi life table adalah kematian penduduk menurut umur yang datanya diperoleh dari registrasi penduduk. Sekadar informasi, konstruksi life table pertama kali dibuat di Inggris pada abad ke-13 berdasarkan data lahir dan meninggal yang tertulis di batu nisan kuburan.

Momentum SP2010

Sayang kita belum bisa membuat life table yang dapat menggambarkan penduduk Indonesia. Sebab, data kematian menurut umur hasil registrasi penduduk hingga kini belum ada.

Memang tidak mudah menyelenggarakan registrasi penduduk, terindikasi dari upaya lama pemerintah. Bahkan, untuk mengintensifkan penyelenggaraan registrasi penduduk, pemerintah membentuk institusi yang berwenang mengurusi soal itu, yaitu Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan, bernaung di bawah Departemen Dalam Negeri.

Salah satu penyebabnya, kurangnya perhatian aparat desa/ kelurahan dan RT/RW untuk mencatat tiap kejadian yang dialami penduduk (lahir, mati, dan pindah). Hal ini diperparah enggannya sebagian masyarakat melaporkan tiap kejadian yang dialami. Ini mungkin disebabkan sikap aparat yang kurang friendly. Dengan bertambahnya daerah pemekaran hingga ke level desa, ini kian menyulitkan penyelenggaraan registrasi penduduk.

Maka, terkait akan dilaksanakannya sensus penduduk tahun 2010 (SP2010), mungkin bisa dijadikan momentum untuk melakukan registrasi penduduk secara lengkap dan benar. Dirjen Minduk bisa memanfaatkan sensus itu sebagai data awal untuk melakukan registrasi penduduk dengan meng-up date data sesuai dengan kejadian lahir, mati, dan pindah yang dialami masyarakat.

Disadari rangkaian kegiatan itu merupakan pekerjaan besar. Agar tidak kehilangan momentum, SP2010 barangkali perlu persiapan sejak dini. Amat diharapkan hal itu bisa berhasil sehingga kekisruhan data kependudukan yang terjadi secara sistemik selama ini bisa teratasi.

Razali Ritonga Kepala BPS Provinsi Sulawesi Tengah

Share:

Jumat, 05 Maret 2010

TAN MALAKA : Pejuang Muslim Revolusioner Islam yang Terlupakan

Oleh : Imam El-haq

Sejarah Singkat Kehidupannya

Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka, gelar yang diberikan kepada Tan Malaka ketika berumur balig. Ini merupakan tradisi masyarakat minangkabau yang turun temurun memberi gelar bagi anak bangsawan. Dilahirkan 1897 di Suliki, Sumatra Barat. Tan malaka dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama (Religius), sangat takut terhadap Allah dan rajin menjalankan perintah-perintahnya. Sebagaimana orang-orang Minang pada umumnya. Tan Malaka tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, lincah dan sehat, terbukti ketika Ibrahim nama kecil Tan Malaka dalam usia yang sangat muda sudah mampu menafsirkan Al Qur’an (Ahmad Suhelmi dkk, 2000).

Kehidupan alam Minangkabau dan gemblengan dari orang tuanya yang religius banyak mempengarui cara berpikir Tan Malaka muda dalam mengarungi perjalanan karirnya sebagai tokoh revolusioner dan founding father bangsa ini kelak.

Berkat orang tuanya tergolong bangsawan (walaupun rendah) Tan Malaka mampu untuk mengecap pendidikan di bangku sekolah waktu itu. Tahun 1903 masuk ke sekolah rendah di Suliki lalu melanjutkan ke sekolah raja atau Kweekscholl di Bukit Tinggi. Banyak orang yang simpatik terhadap pribadi Tan Malaka karena kesopanan, kecerdasannya, kelincahan dan ketekunannya sehingga salah satu guru Belandanya menyarankannya untuk ke Belanda melanjutkan studinya di sekolah guru di Haarlem dekat Amsterdam.

Mengingat pengorbanan dan jasa-jasa dari kampung halaman yang begitu besar hanya untuk pendidikan Tan Malaka, ia tidak disia-siakan. Olehnya ia belajar sungguh-sungguh. Dari disinilah perkenalannya dengan marxisme dan tokoh-tokoh politik perjuangan pergerakan dari Indonesia, seperti Suwardi Suryaningrat (ki hajar dewantara), juga tokoh komunis seperti Henk Sneevliet dan Wiessing. Tan Malaka belajar selama 6 tahun di Belanda, dan pada tahun 1919 kembali ke tanah air hingga dimulailah karirnya menjadi seorang guru.

Perjuangan tokoh yang radikal, militan serta revolusioner semata-mata hanya demi melawan sistem penindasan manusia atas manusia lain yakni kapitalisme yang menurutnya merupakan alasan atas imperialisme dan kolonialisme yang terjadi atas bangsa dan tanah airnya. Tan malaka lebih memilih berjuang bersama buruh dan petani demi pertiwi dengan menanggalkan semua harapan akan masa depan serta gaji yang tinggi sebagaimana harapan guru, orang tua serta orang-orang yang telah berjasa selama menempuh studinya sampai ke Belanda. Namun sikap yang diambil oleh Tan Malaka ini merupakan sebuah ijtihad politiknya untuk menjalankan perjuangan revolusionernya melawan sistem kapitalis yang menindas bangsanya, bukan memusuhi orang atau masyarakat yang hidup di bawah sistem tersebut (Harry A. Poeze, 1999).

Pejuang yang kesepian. Itulah sosok Tan Malaka. Tidak banyak yang kenal betul terhadapnya selain sahabat karibnya Djamaluddin Tamim rekannya dalam membentuk PARI (partai rakyat indonesia) yang dibentuknya pada tahun 1926. Ketika pemberontakan PKI gagal sehingga seluruh anggotanya digulum habis oleh Pemerintah kolonial waktu itu. Selain itu dirinya sangat misterius dan kontroversial bagi pejuang-pejuang lain. Karena gagasan-gagasan revolusionernya sehingga Tan Malaka dikejar-kejar bahkan mengalami pembuangan ke luar negeri oleh polisi kolonial, sebab itulah makanya tak banyak yang mengenalnya, kecuali lewat gagasan yang dituangkan dalam bentuk buku, brosur dan pamflet.baik yang diterbitkan dalam dan luar negeri antara lain yang masterpiecenya yang cukup terkenal yaitu Madilog (1943), yang ditulisnya dalam sebuah gubuk di dekat Kalibata dalam penyamaranya sebagai buruh pabrik sepatu. Dan yang lainnya yaitu Dari Penjara ke Penjara (3 jilid, 1948), , Parlement atau Soviet (1920), SI semarang dan Onderwijs (1921), Dasar Pendidikan (1921), Naar de Republiek Indonesia (1942), Semangat Muda (1925), Massa Actie (1926), Manifesto Bangkok (1927), PARI dan International (1927), PARI dan PKI (1927), Pari dan Nasionalisten (1927), Asia Bergabung (1943), Manifesto Jakarta (1945), Politik, Rencana Ekonomi Berjuang dan Muslihat (1945), Thesis (1946), Islam dalam tinjauan Madilog (1948), Pandangan Hidup (1948), Kuhandel di Kaliurang (1948), Gerpolek (1948) (Taufik Adi Susilo,2008). Pada awal tahun 2000-an, banyak bukunya yang diterbitkan ulang oleh penerbit-penerbit nasional, sepeti Massa Actie dan Gerpolek; gerilya ekonomi politik yang bisa kita dapatkan di toko-toko buku.

Tan Malaka dan Pan Islamisme

Tan malaka adalah contoh pemimpin yang berjuang dan melahirkan gagasan yang hebat untuk mensejahterakan bangsanya tanpa pamrih. Walaupun Tan malaka banyak mengadopsi Faham marxisme dan komunis, ia tidak lupa apa yang telah dibekalkan padanya dengan dasar keIslaman yang kuat dan kukuh dari kampung halamannya di Minang. Tan Malaka selalu berpikir yang dinamis dan mempertanyakan untuk melahirkan gagasan baru untuk menyelamatkan bangsanya yang dijajah.

Pada tahun 1921 Tan Malaka resmi menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia. Tapi jabatan itu tidak dapat dijalankan secara total dikarenakan akibat aktivitas politiknya maka dia ditangkap dan dibuang oleh pemerintah kolonial. Dalam pembuangannya tersebut Tan Malaka dapat menghadiri kongres Komintern (komunis internasionale) keempat, November 1922 di Moskow. Kapasitasnya sebagai wakil dan penasihat dari Indonesia. Di sinilah pertemuannya dengan tokoh-tokoh komunis dunia seperti Vladimir Illich Lenin, Joseph Stalin, dan Leon Trostky serta Hochi Minh pemimpin komunis Vietnam. Beruntung Tan Malaka mendapat kesempatan berpidato selama lima menit, dan kesempatan ini dia pergunakan untuk menyampaikan gagasan revolusioner tentang kerja sama antara komunis dan Islam.

Semangat dan jiwa sorang muslim tetap disandangnya. Dalam pidatonya tersebut, Tan Malaka mengatakan bahwa komunis tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa saat itu ada 250 juta warga muslim di dunia, dan Pan Islamisme juga sedang berjuang melawan imperialisme, perjuangan yang sama dilakukan oleh gerakan komunisme. Oleh karenanya gerakan penyatuan antara gerakan itu harus didukung, dan pidato yang bersemangat itu diakhirinya dengan sebuah pertanyaan yang ditujukan untuk peserta terutama petinggi-petinggi komunis dari Bolshevik tua sebagai pengambil keputusan. Bunyinya pernyataannya “maka dari itu saya bertanya sekali lagi, haruskah kita mendukung pan Islamisme?”

Pembelaan atas Pan Islamisme tentunya sangat beralasan dan kuat. Di samping fakta bahwa kekuatan kaum buruh masih sedikit dan belum memadai untuk terorganisir, karena PKI sebagai organisasi politik belum mengakar kuat di dalam masyarakat, sehingga PKI masih lemah untuk memonopoli dan berjuang sendiri melawan kekuasaan kolonial yang kuat dan totaliter waktu itu. Indonesia termasuk negara yang penduduk muslimnya terbesar di dunia, maka semua kekuatan dari element-element harus bersatu di bawah satu payung revolusi yang bersatu dalam kekuatan-kekuatan yang beraliran Islam dan nasionalis.

Ditambah alasan Komintren yang menggangap Pan Islamisme merupakan musuh dari marxisme/komunis, yang diperkuat oleh keputusan Komintern tahun 1920 untuk mnempatkan Pan Islamisme Sebagai musuh dan lawan karena Pan Islamisme dianggap sebagai bentuk lain dari imperialisme, maka itu harus dilawan, tapi Tan Malaka melihat berbeda dan dia ingin mengoreksi serta mengkritisi keputusan yang salah kaprah itu. Menurutnya kekutan Islam yang membawa Pan Islamisme itu harus dirangkul dan diajak kerja sama karena Pan Islamisme menurutnya merupakan wahana atau alat yang bisa dipakai oleh masyarakat Islam di negara-negara terjajah di Asia dan Afrika dalam melawan kapitalisme dalam bentuk kolonilisme dan imperialisme. Dikarenakan Tan Malaka melihat gelombang modernisasi atau pembaharuan Islam dalam diri Pan Islamisme yang mampu mempengaruhi pemikiran-pemikiran yang baru pula bagi masyarakat yang dijajah untuk merdeka, karena itu merupakan keputusan yang salah dan sangat keliru untuk memusuhi Islam dan gerakan Pan Islamisme.

Visi dan keyakinan politik perjuangannya masih sangat kental dengan nuansa-nuansa keislaman. Walaupun dia termasuk dalam partai komunis namun Tan Malaka merupakan tokoh yang kontroversial karena mendukung aliansi Islam, sehingga ia sering tak sepaham dengan kawan-kawan seperjuangan lainnya. Apalagi setelah pemberontakan PKI 1925, yang dikritik keras oleh Tan Malaka berhasil dipatahkan oleh pemerintah kolonial. Melihat itu Tan Malaka semakin yakin akan persepsinya tentang persatuan perjuangan yang harus besar dan kuat, untuk itu menurutnya persatuan dan kerja sama yang erat dari semua kekuatan politik yang anti kapitalisme dan imperialisme mutlak sifatnya.

Semakin kuat dan besar sebuah gerakan anti imperialisme, maka makin besar pula dorongan penjajah untuk memakai politik memecah belah. Mungkin itu yang terjadi antara PKI dengan semangat sosialismenya dan SI (sarekat islam) dengan jargon Pan Islamismenya. Perseteruan antara keduanya hanya akan semakin melemahkan gerakan dan semangat anti kolonial, dan tan malaka kecewa melihat itu sebagaimana yang dikatakanya kalau perbedaan Islamisme dan Komunisme kita perdalam dan dilebih-lebihkan, berari kita memberikan kesempatan kepada musuh yang terus menerus mengintai untuk melumpuhkan gerakan Indonesia”, katanya. Dan pendapatnya ini didukung oleh tokoh SI Kiai Haji Hadikusumo, menurutnya mereka yang memecah belah persatuan rakyat berarti bukan muslim sejati, ujarnya’.

Di bawah kepemimpinan H. Agus Salim, Sarekat Islam menerapkan “disiplin partai”. Sebuah kebijakan yang melarang anggotanya untuk terlibat dalam keanggotaan partai lain atau SI membatasi keangoatan PKI dalam tubuh sarekat Islam. Kondisi ini justru memperuncing keadaan dan perpecahan gerakan. Tentunya, kondisi ini dimanfaatkan oleh pemerintah kolinial untuk memakai politik pecah belahnya. Lagi-lagi Tan Malaka sedih melihat perpecahan itu, namun setelah PKI di bawah kepemimpinannya, upayanya untuk menyatukan kekuatan itu memperlihatkan keberhasilan, tetapi pemerintah kolonial membuangnya ke negari Belanda tahun 1922. Namun prinsip politiknya untuk penyatuan Pan Islamisme dan nasionalisme serta komunis tetap tidak pernah berubah. Walaupun ia ditangkap, di buang, hingga diasingkan, semangat serta keyakinan untuk menyatukan kekuatan revolusioner tersebut selalu terpatri dalam sanubarinya.

Sangat mustahil kita menginginkan revolusi atau mengusir penjajah yang berwatak kapitalis dan kolonial, jika persatuan itu tak terjadi. Islam memusuhi komunis, PKI membenci SI. Ini hanya akan “merugikan perjuangan” kata Tan Malaka. Juga bahkan akan menyebabkan kegagalan revolusi. Sayang seribu sayang, belum sempat ijtihad politik Tan Malaka berhasil untuk menyatukannya lalu membangun gerakan besar dan kuat untuk menumbangkan rezim penjajah kolonial dalam sebuah revolusi, pejuang kesepian ini sudah meregang nyawa. Mayatnya di buang di kali Brantas, oleh pasukan militer suruhan Sjahrir. Tan Malaka Gugur sebagai martir untuk bangsanya sendiri, bangsa yang selama ini diperjuangkannya. Namanya tidak seharum Soekarno, Hatta, Sjahrir, Natsir dan pejuang-pejuang kemerdekaan lain. Tetapi pasti, Ia syahid!
Share:

Kamis, 18 Februari 2010

Pesantren, Jihad dan Teror

Oleh: A. Mustofa Bisri

Sebagai orang yang dibesarkan di pesantren, sama sekali saya tidak kaget mendengar pesantren dikait-kaitkan oleh pejabat tinggi negeri ini dengan teroris. Kita maklum belaka kebiasaan berpikir lugu kebanyakan petinggi kita yang gampang mengait-ngaitkan masalah dan suka dengan spontan menunjuk-nunjuk pihak lain.

Inilah cara yang paling sederhana untuk menghindar dari dan sekaligus menunjukkan tanggung jawab. Bahkan saya tidak kaget kalau spontanitas sederhana pejabat tinggi itu kemudian menjadi semacam kebijaksanaan yang diikuti membabi-buta oleh bawahan-bawahannya. Saya juga tidak kaget kalau pada gilirannya pers meramai-kembangkan hal itu

Boleh jadi petinggi yang bersangkutan memang mendengar pengakuan salah satu atau beberapa pelaku teror yang tertangkap, atau melihat dokumen yang ditemukan yang menunjukkan bahwa ada tersangka teroris yang mengaku jebolan pesantren. Apalagi bila pejabat tinggi itu termasuk yang termakan opini bahwa sumber teror adalah dari pemahaman ajaran Islam, maka pesantren yang diketahui merupakan tempat pendidikan agama Islam akan tampak logis dijadikan kambing hitam.

Saya yakin semua orang tahu bahwa saat ini jenis pesantren banyak sekali. Bahkan –seiring banyaknya kiai tiban— banyak pula pesantren tiban. Dan pesantren yang disebut ‘salaf’ –katakanlah pesantren yang ‘asli’— baik yang kemudian menamakan diri sebagai pesantren modern atau yang disebut orang tradisional, sudah memiliki jati diri sendiri yang tidak mudah dikagetkan oleh kepanikan orang --termasuk pejabat-- yang panikan.

Sejak mula pesantren ‘salaf’ meyakini suatu akidah pemikiran ahlussunnah wal jamaah yang bercirikan tawassuth wal i’tidaal, tengah-tengah dan jejeg, dengan missi melanjutkan missi Rasululullah SAW rahmatan lil ‘aalamiin, menebar kasih sayang ke semesta alam. Pesantren yang masih merupakan mayoritas ini, masih dipimpin dan diasuh oleh kiai-kiai –dengan sedikit pengecualian-- yang yanzhuruuna ilal ummah bi ‘ainirrahmah, yang memandang umat dengan mata kasih sayang. Bersikap lemah lembut kepada sesama seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Ajarannya juga masih tetap Addiinu annashiihah liLlahi walikitaabihi walirasuulihi waliaimmatil muslimiin wa’aammatihim, berlaku baik terhadap Allah dengan membenarkan keyakinan dan ikhlas beribadah kepadaNya; berlaku baik terhadap kitabNya dengan mempercayai dan mengamalkan isinya; berlaku baik terhadap rasulNya dengan mempercayai risalahnya dan mengikuti ajaran dan perintahnya; berlaku baik terhadap para pemimpin dengan mentaati mereka dalam kebenaran dan menasehati mereka bila nyeleweng; berlaku baik terhadap umumnya umat dengan menunjukkan kebaikan kepada mereka dalam urusan dunia maupun akherat.

Namun kalangan pesantren –termasuk organisasinya seperti RMI dan NU—bisa mengambil hikmah dari dikait-kaitkannya pesantren dengan terorisme ini. Minimal hal ini dapat menyadarkan mereka bahwa ketika dunia dikuasai ‘ideologi-ideologi’ ekstrem seperti sekarang, ‘ideologi’ mereka yang tawassuth wal i’tidaal berasaskan kasihsayang sangat sangat dibutuhkan. Dan pada gilirannya mendorong mereka untuk lebih menampilkan jati diri mereka sebagai pelopor pemikiran dan sikap jejeg dan tengah-tengah, menebarkan rahmatan lil’aalamiin; serta lebih aktif menjelaskan pemahaman yang benar tentang ajaran Rasulullah SAW melalui lisan, tulisan, maupun tindakan, tidak saja kepada pihak luar, tapi juga kepada kalangan sendiri yang masih belum benar-benar bisa memahami samhatal Islam, kelapangan Islam.

Kalangan pesantren mesti mengkaji ulang dan memperbaiki cara mereka mulang dan memberi pengajian. Karena ternyata belakangan banyak konsep-konsep keliru yang laris manis justru karena dikemas dan diajarkan dengan cara yang canggih. Soal ‘jihad’ misalnya. Ternyata istilah yang sudah ‘ma’lumun fiddiini bidhdharurah’ di kalangan pesantren ini, kini masih ada yang mempersoalkan atau dipersoalkan lagi akibat adanya pemahaman baru yang bukan saja merusak maknanya, tapi juga merusak citra Islam itu sendiri.

Bukan saja jihad diartikan hanya sebagai qitaal, perang, tapi jihad dan qitaal itu sendiri sudah tercerabut dari gandengannya yang tidak boleh dipisahkan: fii sabiiliLlah. Qitaal –fii sabiiliLlah sekalipun-- yang tidak mengikuti jalan Allah, sama saja dengan teror! Sama dengan amar-makruf-nahi-munkar yang seharusnya dilakukan secara makruf, kini sudah ada yang melakukannya dengan cara yang mungkar; demikian juga jihad sudah ada yang melucuti sabiiliLlah-nya. Berjuang di jalan Allah tanpa mengindahkan jalan Allah. Jihad dengan Quran --sebagaimana difirmankan Allah “Wajaahidhum bihi jihaadan kabiiran” ,“Berjuanglah terhadap mereka dengannya (Quran) dengan jihad yang besar” (Q. 25: 52)— yang menebarkan rahmat dan kehidupan, kini kalah populer oleh ‘jihad’ dengan bom yang menebarkan laknat dan kematian.

Waba’du; akan halnya teror itu sendiri yang menjadi biang masalah, saya sudah pernah menulis dan mengatakan antara lain bahwa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teror berarti: 1. perbuatan (pemerintahan dsb) yang sewenang-wenang (kejam, bengis, dsb); 2. usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan.

Jadi apakah itu pemerintah, perorangan, atau golongan bisa melakukan teror. Pemerintah kolonialis Belanda dan Jepang yang melakukan teror terhadap rakyat Indonesia kemudian ditiru oleh pemerintah orde baru, terutama di awal-awal kekuasaannya. (Anda masih ingat menjelang pemilu tahun 1971? Pemerintah yang didukung oleh ABRI waktu itu melakukan teror yang luar biasa kejam kepada rakyatnya sendiri. Penculikan, penyiksaan, penindasan, dan hal-hal lain yang mengerikan dilakukan oleh aparat pemerintah. Masih ingat lembaga atau apa yang bernama Babinsa –bersama koramil—yang tahun 70-an menjadi momok di daerah-daerah karena kebengisannya?).

Di luar Indonesia, sampai saat ini pemerintah Amerika masih terus meneror dunia dengan tindakan-tindakannya terhadap ‘negara-negara kecil’ seperti Afganistan, Irak, Iran, Syria yang dianggapnya tidak manut kepada negara adi daya itu. Pemerintah Israel meneror Yasser Arafat dan rakyat Palestina. Dan kebetulan negara-negara sasaran itu dikenal sebagai negara-negara kaum muslimin. Dua pemerintahan yang saling mendukung itulah antara lain yang --dengan ketidakadilan alias kezaliman mereka-- melahirkan ‘teroris-teroris gelandangan’ dimana-mana. Pihak kecil yang gregetan dan frustasi terhadap kezaliman pihak yang kuat seringkali kalap dan menjadi zalim pula. Kezaliman melahirkan kezaliman dan kedua-duanya melahirkan kegelapan.

Khusus di republik yang tertatih-tatih oleh timbunan utang, koruptor, dan seabrek masalah ini, merekrut ‘pejuang teror’ kiranya jauh lebih mudah dari pada menangkap teroris. Disini orang kecil atau rakyat yang bodoh dan melarat banyak, orang besar atau pemimpin yang korup dan tak bertanggungjawab juga banyak. Disini untuk beberapa ribu rupiah, akal bisa hilang dan nyawa bisa melayang. Bayangkan bila ada doktrin yang bisa meyakinkan kepada orang yang sudah sedemikian sumpeknya terhadap kehidupan dunia ini, bahwa bila dia mau mengorbankan nyawanya, dia bukan sekedar akan mendapat beberapa ribu rupiah, tapi akan mendapatkan kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang berbahagia tanpa rasa takut dan susah. Sorga.

Menurut saya, teroris akan mudah –bahkan mungkin hanya bisa—dikikis oleh sikap adil penguasa. Saya yakin Amerika akan bisa tidur tenang, bila mereka tidak memilih pemimpin zalim semacam Bush. Dan disini, di negeri ini, doktrin teroris macam Noordin M. Top tidak akan laku, bila pemerintah lebih serius memikirkan kesejahteraan rakyatnya dan para pemimpin agama serius membimbing ke arah penguatan dan pengkayaan batin mereka.
Wallahu a’lam.



Share:

Selasa, 09 Februari 2010

Lain Dulu, Lain Sekarang

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid*

Ketika bangsa Indonesia berdiri, ada sebuah hal yang sangat menarik,yaitu istilah "merdeka". Dengan kata yang digunakan dalam penggunaan berbeda-beda,maka didapat beberapa arti dan makna. Kata merdeka berarti lepas atau bebas.


Sekarang ini, kata merdeka itu juga digunakan oleh pihak keamanan, seperti merdeka dari penahanan atau bisa diartikan bebas. Namun,kata merdeka lebih dari bebas. Bagi sebuah bangsa, merdeka berarti lepas dari penjajahan. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kepada kemandirian politik, ekonomi,maupun lain-lainnya.

Merdeka secara ekonomi, berarti sama sekali tidak bergantung kepada negara lain dalam segala hal. Secara politik, berarti lepas dari penjajahan pihak lain. Contohnya, lepasnya Indonesia dari pen-jajahan kolonial Belanda sehingga bangsa kita mampu segera mengembangkan budaya politik, ekonomi, dan lainnya sendiri.
Kalimat seperti negara A mampu memelihara kemerdekaan yang dicapainya, baik melalui perang maupun dengan cara berunding, merujuk kepada aspek-aspek kemerdekaan itu. Inilah yang digunakan oleh Undang-Undang Dasar 1945 kita.

Ketika almarhum Raja Ali Haji dari Riau mengubah buku Tata Bahasa Melayu, maka dengan sengaja ia telah "memerdekakan" bahasa Melayu dari bahasa Belanda.Buku ini menjadi cikal-bakal lahirnya bahasa Indonesia.Lahirnya bahasa Melayu sebagai lingua franca, menjadi cikal-bakal dari tumbuhnya kesadaran suku-suku yang ada di nusantara untuk membangun sebuah ikatan kebangsaan.

Hal ini terlihat dengan berdirinya Boedi Oetomo (BO), yang menjadi salah satu bangunan inti kebangsaan kita. Meski demikian, semangat menjadi satu bangsa ini telah tampak dalam sejarah kita sejak abad ke-8.Padahal,Kerajaan Majapahit sendiri baru lahir di tahun 1293 Masehi.

Pada abad ke-8 Masehi, seorang agamawan Budha dari Tiongkok bernama Fahien telah melaporkan adanya semangat menghargai perbedaan di Sriwijaya,Sumatera Selatan. Dua abad setelahnya, orang-orang Sriwijaya menyerbu Pulau Jawa melalui pela-buhan lama Pekalongan. Dalam perjalanan mendaki Gunung Dieng,mereka ditemui oleh orang-orang Kalingga Hindu.

Orang-orang Hindu itu tidak diapa-apakan. Pasukan Sriwijaya tersebut melanjutkan sampai di daerah Muntilan,yang sekarang ini menjadi bagian Kabupaten Magelang. Di sana mereka membangun candi yang dinamakan Borobudur. Sebagian mereka tinggal di Borobudur dan sebagian lagi menuju kawasan Yogyakarta sekarang.

Di kawasan baru itu, mereka dirikan Kerajaan Kalingga Budha dan mendirikan Prambanan, sebuah candi Hindu-Budha yang segera dimusuhi oleh orang Hindu maupun orang Budha. Mereka menganggapnya sebagai agama "campur- aduk". Di bawah pimpinan Prabu Darmawangsa, mereka berpindah dari Prambanan ke Kediri.

Dua abad kemudian, mereka berpindah lagi ke Kerajaan Singasari di Utara kota Malang sekarang.Di sana orang-orang Hindu-Budha itu mendirikan Kerajaan Majapahit di dukung oleh angkatan laut Cina, yang waktu itu hampir seluruhnya memeluk agama Islam. Dari sini kita dapat melihat bahwa asas kebangsaan itu tidak dapat digantikan oleh apa pun.

Namun, sekarang lahir kelompok-kelompok fundamentalis yang mengajak kita semua meninggalkan semangat kebangsaan yang telah mempersatukan kita sebagai bangsa sejak berabad-abad yang lalu. Sebenarnya, setelah dikuatkan oleh UUD 1945,kita telah bertekad mencapai kemerdekaan politik, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.
Hal ini seharusnya senantiasa kita ingat sebagai bagian penting dari sejarah kita sebagai bangsa. Inilah modal bangsa kita untuk merengkuh kehidupan masa depan, bukan?

kangjeri.blogspot.com
Share:

Senin, 08 Februari 2010

FID-DUNYA HASANAH WAFIL-AKHIRATI HASANAH

Oleh: A. Mustofa Bisri

Kepentingan pembangunan–seperti juga pada jaman revolusi, yaitu kepentingan revolusi–ternyata tidak hanya memerlukan dalil aqli, tapi juga dalil naqli. Apalagi jika masyarakat menjadi subyek–atau obyek–pembangunan justru “kaum beragama”.


Apabila pembangunan itu menitikberatkan pada pembangunan material (kepentingan duniawi), meski konon tujuannya material dan spiritual (kepentingan akhirat), maka perlu dicarikan dalil-dalil tentang pentingnya materi. Minimal pentingnya menjaga “keseimbangan” antara keduanya (material bagi kehidupan dunia dan spiritual bagi kehidupan akhirat).

Maka, dalil-dalil tentang mencari–atau setidak-tidaknya tentang peringatan untuk tidak melupakan–kesejahteraan dunia, pun perlu “digali” untuk digalakkan sosialisasinya.

Tak jarang semangat ingin berpartisipasi dalam pembangunan material-- yang menjadi titik berat pembangunan– ini mendorong para dai dan kyai justru melupakan kepentingan spiritual bagi kebahagiaan akhirat. Atau, setidaknya, kurang proporsional dalam melihat kedua kepentingan itu.

Ketika berbicara tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, biasanya para dai tidak cukup menyitir doa sapu jagat saja: Rabbanaa aatinaa fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah. Biasanya, mereka juga tak lupa membawakan Hadist popular ini: I'mal lidunyaaka kaannaka ta'iesyu abadan wa'mal liakhiratika kaannaka tamuutu ghadan, yang galibnya berarti “Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi dan beramallah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi”. Kadang-kadang, dirangkaikan pula dengan firman Allah dalam Surat al-Qashash (28), ayat 77:“Wabtaghi fiimaa aataakallahu 'd-daaral aakhirata walaa tansanashiebaka min ad-dunya....” yang menurut terjemahan Depag diartikan,“Dan carikan pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi…”.


Umumnya orang–sebagaimana para dainya–segera memahami dalil-dalil tersebut sebagai anjuran untuk giat bekerja demi kesejahteraan di dunia dan giat beramal demi kebahagiaan di akhirat.

Kita yang umumnya–tak usah dianjurkan pun–sudah senang “beramal” untuk kesejahteraan duniawi, mendengarkan dalil-dalil ini rasanya seperti mendapat pembenar, bahkan pemacu kita untuk lebih giat lagi bekerja demi kebahagiaan duniawi kita.

Lihat dan hitunglah jam-jam kesibukan kita. Berapa persen yang untuk dunia dan berapa persen untuk yang akhirat kita? Begitu semangat–bahkan mati-matian–kita dalam bekerja untuk dunia kita, hingga kelihatan sekali kita memang beranggapan bahwa kita akan hidup abadi di dunia ini.

Kita bisa saja berdalih bahwa jadwal kegiatan kita sehari-hari yang tampak didominasi kerja-kerja duniawi, sebenarnya juga dalam rangka mencari kebahagiaan ukhrawi. Bukankah perbuatan orang tergantung pada niatnya, “Innamal a'maalu binniyyaat wa likullimri-in maa nawaa.” Tapi, kita tentu tidak bisa berdusta kepada diri kita sendiri. Amal perbuatan kita pun menunjukkan belaka akan niat kita yang sebenarnya.

Padahal, meski awal ayat 77 Surat sl-Qashash tersebut mengandung “peringatan” agar jangan melupakan (kenikmatan) dunia, “peringatan” itu jelas dalam konteks perintah untuk mencari kebahagiaan akhirat. Seolah-olah Allah– wallahu a'lam– “sekadar” memperingatkan, supaya dalam mencari kebahagiaan akhirat janganlah lalu kenikmatan duniawi yang juga merupakan anugerah-Nya ditinggalkan. (Bahkan, menurut tafsir Ibn Abbas,“Walaa tansa nasiibaka min ad-dunya” diartikan “Janganlah kamu tinggalkan bagianmu dari akhirat karena bagianmu dari dunia”).

Juga dalil I'mal lidunyaaka… --seandainya pun benar merupakan Hadist shahih–mengapa tidak dipahami, misalnya,“Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi.” Nah, karena kamu akan hidup abadi, jadi tak usah ngongso dan ngoyo, tak perlu ngotot. Sebaliknya, untuk akhiratmu, karena kamu akan mati besok pagi, bergegaslah. Dengan pemahaman seperti ini, kiranya logika hikmahnya lebih kena.

Sehubungan dengan itu, ketika kita mengulang-ulang doa,“Rabbanaa aatina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah,” bukankah kita memang sedang mengharapkan kebahagiaan (secara materiil) di dunia dan kebahagiaan (surga) di akhirat, tanpa mengusut lebih lanjut, apakah memang demikian arti sebenarnya dari hasanah, khususnya hasanah fid-dunya itu?

Pendek kata, jika tak mau mengartikan dalil-dalil tersebut sebagai anjuran berorientasi pada akhirat, bukankah tidak lebih baik kita mengartikan saja itu sebagai anjuran untuk memandang dunia dan akhirat secara proporsional (berimbang yang tidak mesti seimbang).

Memang, repotnya, kini kita sepertinya sudah terbiasa berkepentingan dulu sebelum melihat dalil, dan bukan sebaliknya. Wallahu a'lam.

Share:

Senin, 01 Februari 2010

Revolusi Media Pengajaran

Rabu, 27/01/2010 | www.detik.com
Jakarta - Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas merupakan tugas dan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Keterlibatan seluruh anggota masyarakat menjadi sangat penting. Namun, rendahnya kesadaran akan arti penting pendidikan menjadikan banyak pihak membiarkan masalah yang muncul menjadi semakin membesar dan baru tersadarkan ketika memberikan dampak buruk.


Oleh karenanya menumbuhkan kesadaran tentang arti penting pendidikan merupakan langkah awal yang harus ditempuh sebelum menuntut banyak pihak untuk lebih mencurahkan perhatiannya pada pendidikan. Secara umum perkembangan teknologi telah mempengaruhi segala sendi-sendi kehidupan. Tidak terkecuali dunia pendidikan.

Di negara-negara maju pemanfaatan teknologi untuk mendorong pembelajaran yang lebih inovatif ini terus dikembangkan. Guna mencetak manusia pembelajar yang update dengan teknologi. Dengan kata lain bahwa upaya ini meminimalisir manusia yang gagap teknologi. Sementara di negara berkembang keberadaan teknologi dalam pembelajaran ini masih dalam tahap pemanfaatan. Sehingga, masih perlu optimalisasi pemanfaatan secara kontinyu pada sumber daya manusia pendidikan Indonesia. Dalam hal ini ialah guru.

Dunia pendidikan Indonesia menghadapi ACFTA 2010 ini juga perlu mendorong peningkatan mutu dan layanan dalam pembelajaran. Memberikan pengawasan ketat terhadap pengaruh asing yang mungkin menimbulkan dampak negatif, dan memberikan ruang yang luas untuk berkreasi menemukan inovasi-inovasi terbaru. Hal ini semata-mata untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam percaturan di era pasar bebas saat ini.

Di tengah-tengah persaingan ini tentunya dunia pendidikan perlu melakukan revolusi dalam pembelajaran. Salah satu yang dapat dilakukan dalam merevolusi ini ialah penggunaan media yang menarik bagi peserta didik. Media belajar dapat berpengaruh pada kualitas penyerapan informasi bagi peserta didik. Sebab, hadirnya media belajar ialah untuk mendekatkan antara teori dengan realitas dan mengkonkritkan konsep yang abstrak.

Media pembelajaran berbasis e-learning dapat dikembangkan dalam rangka proses penyampaian informasi sekaligus penguasaan terhadap teknologi. Media yang akan dikembangkan ini semestinya mampu mengarahkan peserta didik untuk berpartisipasi aktif di dalam kelas maupun kegiatan di luar kelas. Setidaknya dapat mengambil posisi yang saling mendukung sebagai upaya meningkatkan pengetahuan.

Pengetahuan sifatnya sangat luas sehingga tidak hanya satu hal saja dapat diperoleh dari pembelajaran dengan media elektronik ini. Pembelajaran semacam ini ke depan menjadi tren yang mau tidak mau harus dilakukan di bidang pengajaran. Aspek yang luas dapat dikaji dengan memanfaatkan sumber yang semakin mudah pula diperoleh.

Tantangan ke depan ialah bagaimana menjadikan pembelajaran berbasis e-learning ini dapat mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menyerap segala informasi yang diperolehnya dari berbagai macam sumber. Filterisasi yang ketat terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin dapat ditimbulkan dari sumber yang salah juga menjadi koreksi bagi pemangku kebijakan bidang komunikasi dan informasi.

Selebihnya kewenangan lain dapat pula diambil oleh Departemen Pendidikan Nasional dalam membatasi upaya plagiat terhadap karya orang lain dalam hal pemikiran. Hal ini mendorong manusia Indonesia yang lebih sportif dan menjunjung tinggi orisinalitas karya.

Sumber yang sangat terbuka ini ternyata menimbulkan kenyataan negatif dan banyak dijumpai upaya copy - paste terhadap karya orang lain. Oleh karenanya pengawasan yang ketat dapat dilakukan oleh semua pihak yang terkait misalnya pendidik dan editor jika ingin diterbitkan.

Kita sadari bahwa upaya tersebut tidaklah mudah dilakukan mengingat luasnya sumber informasi yang dapat diakses oleh semua orang. Karena pentingnya hal tersebut maka pengawasan dari semua pihak sangat efektif. Hingga pada akhirnya pemanfaatan sumber informasi yang luas ini membawa kebermanfaatan bersama tanpa ada pihak yang dirugikan.

Rudiono
Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta dan ketuaK omunitas Peduli Pendidikan "Educlique" Yogyakarta.

Share:

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Program Dilematis

Jumat, 29/01/2010 | www.detik.com
Jakarta - Di awal tahun ini sempat mencuat wacana proses pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri dan difasilitasi oleh pemerintah merupakan program dilematis. Dengan alasan cukup mendasar bahwa Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa seperti kejujuran, gotong-royong, dan keterbukaan merupakan semangat mentalitas yang bisa muncul dalam sebuah mileu masa lalu saja.


Memberdayakan masyarakat tentu saja bukan sebuah proses apologetik. Menghidupkan kembali semangat masa lalu di hari ini yang sarat dengan beberapa perbedaaan mendasar dalam kehidupan di masyarakat. Dilatarbelakangi oleh perbedaaan waktu, latar, setting, mileu, dan mentalitas manusia itulah hal tersulit dari siapa pun untuk membangkitkan kembali semangat nilai-nilai luhur bangsa dalam kehidupan.

Fasilitasi yang diberikan oleh pemerintah baik berupa anggaran maupun konsep pemberdayaan memang mengacu pada tataran realistis dan dipengaruhi oleh nilai-nilai empiris. Bahkan, melalui proses analisa terhadap kehidupan masa lalu dan kini. Hanya saja sebuah proses yang diturunkan dari atas ke kelompok akar rumput perlu pembenahan dan pengadaptasian lingkungan di mana kita sedang hidup.

Bisa dibayangkan. Masyarakat dengan kapasitasnya sebagai akar rumput tiba-tiba harus mengelola proyek pembangunan dengan nominal uang di atas Rp 300,000,000 per tahun. Sementara dalam PNPM ada sebuah siklus yang harus dilalui oleh masyarakat tersebut.
Siklus-siklus tersebut pun kadang diabaikan oleh masyarakat dengan alasan sebuah percepatan, progres, dan masyarakat sekarang sudah pada cerdas. Tentu, hal tersebut akan menimbulkan sebuah sinyal. Bahwa saat ini semangat individualismelah yang menjadi landasan berpijak mayoritas masyarakat kita.

Dalam iklim individual seperti ini progres dan percepatan memang bisa dicapai. Pemberdayaan bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Namun, penguatan mentalitas terhadap sebuah keinginan dan itikad ingin mengenal satu sama lain, menghargai jerih payah orang lain, akan terhapus dalam kehidupan.

Dalam iklim individual yang kuat dan mendominasi dalam setiap ranah kehidupan dan cara-cara memberdayakan masyarakat membutuhkan sebuah ketepatan strategi. Agar program apa pun tidak menjadi sebuah paradigma dilematis.

PNPM hadir dan masyarakat sejak lima tahun terakhir telah menikmati hasilnya. Perlu diingat selama lima tahun ini --terutama di Kota Sukabumi, bukan perjalanan mulus dan tanpa masalah. Normatif memang. Sampai, penulis bisa membuat satu simpulan besar. PNPM merupakan sebuah program dilematis. Satu sisi ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa namun pada saat yang bersamaan masyarakat dituntut untuk melakukan progres pemberdayaan dengan penjadwalan tanpa kerangka.

Harus diakui ini memang permasalahan mendasar PNPM di negara ini. Progres pemberdayaan seharusnya sejalan dengan pembuatan jadwal dan rencana kegiatan. Bukankah orang-orang yang ditempatkan di PNPM ini merupakan orang-orang pilihan yang sudah bisa membaca dan memprediksikan kegiatan ke depan. Lalu, mengapa antara proses pemberdayaan dengan jadwal kegiatan seolah selalu tidak klop. Kadang pemberdayaan dilakukan mendahului jadwal kegiatan. Pada saat lain kegiatan yang mendahului progres pemberdayaan.

Akibat langsung yang terjadi di masyarakat adalah masyarakat kembali bingung karena dibingungkan oleh permasalahan mendasar seperti di atas. BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) dan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) bisa menghantam siapa saja. Terutama fasilitator PNPM dengan cara bagaimana pun. Aturan-aturan pun kadang kurang jeli dalam mengahadapi manuver BKM di akar rumput. BKM dengan alasan pemberdayaan bisa saja melakukan pemotongan terhadap anggaran kegiatan yang semestinya dinikmati langsung oleh masyarakat.

Kasus-kasus pemotongan terhadap anggaran kegiatan biasanya didalihkan terhadap pengadministrasian karena rata-rata KSM kurang memahami pengadministrasian anggaran kegiatan. Ketidakmengertian inilah yang dimanfaatkan oleh beberapa BKM untuk melakukan pemotongan anggaran kegiatan.

Lantas apa yang dilakukan oleh KWM sebagai orang tua asuh fasilitator di tingkat Kota atau Kabupaten ketika melihat fenomena ganjil seperti di atas. Lumrah memang. Mentalitas bangsa ini selalu ingin mencari jalan keluar, dikompromikan, dan jalan keluar itu akan menyelamatkan semua pihak. Maka, virus seperti ini akan menyebar kepada BKM-BKM lain karena kebiasaan kita memang sering menjadikan kebiasaan jelek sebagai barometer dalam bertindak kita. Lemahnya aturan ini akan dimanfaatkan oleh orang-orang oportunis untuk menggembosi BKM lebih umum PNPM.

Masalah terbesar dalam kasus seperti ini akan munculnya benturan di kelompok akar rumput. Maka, apa yang akan dihasilkan oleh program pemberdayaan ketika kelompok kelompok di akar rumput saja sudah tidak bisa dikendalikan karena ada di dalam hirup pikuknya benturan. Baik pemikiran, terlebih perang mulut, dan saling salah menyalahkan.

Sehebat apa pun konsep pemberdayaan jika tidak dibarengi dengan ketegasan orang orang yang berada di dalamnya serta aturan dan penegakan hukum adalah isapan jempol belaka. Satu hal lain penguatan mentalitas harus diarahkan dengan mengedepankan pengentasan masalah mendasar masyarakat. Saat ini permasalahan mendasar masyarakat adalah lemahnya semangat entreupreneur, kewirausahaan, penemuan jati diri. Bukan melulu dikucuri dana untuk memperkuat dan membangun beberapa gang, jalan lingkungan, dan MCK.

Warsa Suwarsa
Jl Widyakrama Sukabumi
warsa_suwarsa@yahoo.com
085310116936

Share:

Jumat, 29 Januari 2010

SBY Mundurlah.. Please...!

Presiden SBY, sudah saatnya mengundurkan diri! jika kita objektif dalam melihat sepak terjang kepemimpinan SBY bukan hanya 100 hari ini tapi 5 tahun yg lalu sampai sekarang SBY bukan membangun kesejahteraan rakyat tapi lebih membangun pagar betis untuk mempertahankan kekuasaannya. SBY telah banyak melakukan pembodohan terhadap rakyat.

SBY tak lebih dari sekedar Seorang Tentara Gila Kekuasaan! Lihat.. dalam 100 hari kepemimpinannya KITA BANGSA INDONESIA seperti tidak memiliki PRESIDEN.. sebagai contoh kasun Bank CENTURY, SBY belum melakukan tindakan tegas! jangankan melakukan tindakan tegas untuk sekedar ngomong masalah CENTURY SBY belum mengeluarkan sepatah katapun! mungkin presidenku Sariawan atau Bisu! yng di bicarakan selama ini hanya mengeluh layaknya anak pada Ibunya. Bukankah sebenarnya SBY tempat mengeluhnya rakyat Indonesia. SBY kalo anda sebagai orang Satria lebih baik Mundur Aja. Bangsa Ini akan terus Melarat dan Tertinggal dibawah kepemiminan anda! Mari semua Element bangsa kita berfikir Objektif, mari kita rapatkan barisan melukan REVOLUSI!!! wahai masyarakat Indonesia yg sekarang Pro SBY, sgera sadarlah bahwa saudara semua telah di Hipnotis Oleh SBY dan ANtek-anteknya.... Bangunlah..Bangunnnnn..Bangunnn GET UP......!!Bangsattt...! AWAS BAHAYA LATEN ORDE BARU..

Share:
Copyright © Kangjeri's Blog | Powered by Blogger Distributed By Protemplateslab & Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com